“Menghitung hari-hari”
Suara Injil: “IKUTLAH YESUS”
SENIN, 7 JUNI 2021
“Menghitung hari-hari”
BE. 753:1+3 “Di Pardalanan Jesus Di Jolongku” (Tiap Langkahku)
Di pardalanan Jesus di jolongku, holong ni tangan-Mi manogu au.
Nang di ngolungku Ho do sombaonhu, tung sonang mardalan raphon au.
Huboto do tangkas panoguon-Mu, diiring-iring Ho do langkangki.
Sahat ro di ujung ni pardalanhu, togu ma au jonok tu lambung-Mi.
Patogu ma, Tuhan, haporseaonhu; asa polin tu Ho manghirim au.
Tu surgo i patulus pardalanhu, Tondi-Mi maringan ma di au.
Huboto do tangkas panoguon-Mu, diiring-iring Ho do langkangki.
Sahat ro di ujung ni pardalanhu, togu ma au jonok tu lambung-Mi.
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan, dan kasih sayang-Mu menuntunku.
Kaulah kupuja sepanjang hidupku, ‘ku tetap senang bersama-Mu.
Kar'na 'ku tau Kau Tuhan menuntunku, ke tempat tinggi Kau menghantarku.
Sampai 'ku tiba di akhir jalanku, di Surga rumah-Mu, ya Allahku!
Ya Tuhanku, teguhkanlah imanku, agar tetap setia kepada-Mu.
Menuju Surga pimpinlah langkahku, Roh Kudus penuhi jiwaku.
Kar'na 'ku tau Kau Tuhan menuntunku, ke tempat tinggi Kau menghantarku.
Sampai 'ku tiba di akhir jalanku, di Surga rumah-Mu, ya Allahku!
BACAAN PAGI: Mazmur 108:1-14
BACAAN MALAM: Wahyu 20:1-6
Mazmur 90:12
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Selaku hamba Tuhan, Musa berdoa sebagaimana Mazmur ini. Ia merenungkan apa makna kehidupan di dunia ini, sebab begitu singkatnya umur manusia bila dibandingkan dengan alam semesta ciptaan Tuhan. Tentunya perenungan dan doa Musa ini spontan mengajak kita juga melihat kepada hidup kita sendiri dalam jangka waktu yang teramat singkat dan pendek di hadapan Tuhan, Allah Yang Kekal. Usia kita dalam kehidupan ini hanyalah satu titik kecil apabila dibandingkan dengan waktu Allah yang kekal dan tidak ada habisnya. Karena itu kita harus berdoa juga sama seperti Musa memohon pemahaman dan hikmat kepada Tuhan untuk memanfaatkan dan memaknai setiap hari yang diberikan-Nya kepada kita. Hal ini menyadarkan kita betapa hidup yang singkat di dunia ini, supaya menjadi persiapan untuk kehidupan di akhirat kelak di dunia yang baru. Karena itu kita harus memutuskan apa yang perlu kita mengerti dan lakukan sehubungan dengan maksud Tuhan bagi kita, bahkan lebih jauh lagi dan terutama apa yang ingin dicapai Tuhan bagi kita, menghadirkan kita di dunia yang fana ini. Bahwa kita ada di dunia ini bukan sebuah kebetulan atau pun dengan sendirinya, lepas dari keberadaan dan maksud Tuhan.
Hari-hari hidup kita di dunia ini paling lama 70-80 tahun (10), sementara Tuhan Allah, Sang Pencipta alam semesta adalah kekal. Apakah keinginan dan kepentingan yang hendak dicapai Tuhan bagi diri-Nya, bagi keluarga kita dan juga bagi orang lain melalui kita? Dengan demikian maka dalam hidup kita sepantasnya lahir kesetiaan dan nilai-nilai lain dalam pelayanan. Supaya ketika waktu kita di dunia ini habis, kita sudah tahu dan punya persiapan yang pasti untuk sampai di sorga kelak. Bagaimana kita hidup dalam pengabdian kepada Allah, akan dinilai. Mengingat hal itu, kita harus berdoa memohon hati yang bijaksana, dan ketaqwaan atau takut yang benar akan Allah (11). Perkenanan Allah atas hidup dan pekerjaan kita adalah sesuatu yang mutlak perlu kita peroleh untuk hidup kita layak bagi Dia. Dengan kata lain, jangan kiranya Tuhan Allah menyesal menghadirkan kita lahir dan menghabiskan hidup di dunia ini (13-17). Untuk itulah kita patut bermohon kepada Tuhan sebagaimana Musa dalam nas kita hari ini, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana!” Menyadari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita, merupakan langkah pertama menuju "hikmat" sejati, yakni takut akan Tuhan. Kesadaran ini membuat kita menilai dan menghitung segala sesuatu menurut nilai yang sebenarnya, yang memberi kita sikap yang tepat dan sesuai dengan kehendak Allah mau pun keadaan yang nyata. Karena itu, “Ikutlah Yesus!” Amin!
Doa:
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, ya Tuhan Allah; agar jangan kiranya Engkau menyesal atas ketidaklayakan kami. Berilah kami hati yang bijaksana. Amin!”
-btps-
BACAAN PAGI:
Mazmur 108:1-14
108:1 Nyanyian. Mazmur Daud.
108:2 Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku,
108:3 bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar.
108:4 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;
108:5 sebab kasih-Mu besar mengatasi langit, dan setia-Mu sampai ke awan-awan.
108:6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah, dan biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi.
108:7 Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai, selamatkanlah dengan tangan kanan-Mu dan jawablah aku!
108:8 Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: "Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur.
108:9 Gilead punya-Ku, Manasye punya-Ku, Efraim ialah pelindung kepala-Ku, Yehuda ialah tongkat kerajaan-Ku,
108:10 Moab ialah tempat pembasuhan-Ku, kepada Edom Aku melemparkan kasut-Ku, dan karena Filistea Aku bersorak-sorai."
108:11 Siapakah yang akan membawa aku ke kota yang berkubu? Siapakah yang menuntun aku ke Edom?
108:12 Bukankah Engkau, ya Allah, yang telah membuang kami, dan yang tidak maju, ya Allah, bersama-sama bala tentara kami?
108:13 Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia.
108:14 Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Komentar
Posting Komentar